Wednesday, September 4, 2013

Selasa, 3 September 2013.

Aku melihatnya kembali. Sesosok pria yang amat ku kenal beberapa bulan terakhir ini. Dan juga menyayanginya.

Aku melihatnya ketika ia sedang hendak menyebrangi jalan bersama kuda besinya.

Aku tahu itu dia. Aku amat mengenalnya.

Bahagia bisa bertemu denganmu kembali walau hanya sepersekian detik saja, Mr. Coffee.

I miss you. I really do.


nb: Selamat tanggal 4 yang ke dua :)

Friday, August 30, 2013

Badai Katrina

Senja sore ini terasa sangat lebih indah. Dalam perjalananku kembali ke rumah kos-kosan, aku selalu memandangi langit. Senja yang begitu indah seakan menghantarku kembali ke surga kecil di dunia. Ya, kamar.

Namaku Adelline. Aku mahasiswi semester akhir yang sedang sibuk-sibuknya dengan berbagai macam kegiatan di kampus. Sore ini aku melajukan sepeda motor kesayanganku dari kampus menuju rumah kos-kosanku. Lelah. Ya, sangat lelah. Aku merasakan betapa lelahnya badan serta pikiranku hari ini. Dalam perjalan, aku menemukan senja yang begitu indah. Mataku terpaku memandang langit. Ku pelankan laju kendaraanku sejenak hanya untuk sekadar memandangi keajaiban yang Tuhan berikan. Indah sekali, gumamku.

Sesampainya aku di kamar, tanpa basa-basi aku bergegas merebahkan tubuh ini di atas kasur yang sangat empuk. Kedua bola mataku menerawang ke atas langit-langit dinding kamarku. Aku terdiam. Dan kemudian menangis. Semua permasalahan yang sedang terjadi padaku serasa menusukku perlahan. Aku rindu rumah kedua orang tuaku. Aku rindu kedua orang tuaku dan kedua kakak-kakakku. Aku rindu berada dalam satu atap dengan keluargaku. Bercengkrama, bercerita dan bermanja ria. Aku rindu.

Sejenak aku mengingat kata-kata yang dapat membangkitkanku dari salah satu sahabat terbaikku.

“Masalah dalam hidup bagaikan badai Katrina. Ketika mata badainya sudah keluar, pasti akan ada kehidupan yang lebih baik nantinya.”

Aku selalu percaya dengan kalimat-kalimat itu. Entah mengapa. Ku usap air mataku dan mulai bergegas menyelesaikan permasalahan itu satu persatu.


Wednesday, July 3, 2013

Hari untukmu

Beberapa minggu menjelang akhir bulan Juni, aku masih sibuk dengan misiku. Berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Menyelami dunia maya mencari informasi. Sampai akhirnya aku mendapatkannya.

Dari 22 tahun dia hidup di dunia, baru 2 bulan lebih aku mengenalnya lebih dekat. Sangat dekat, maybe. Entah kenapa aku begitu excited mempersiapkan ini semua.
Beberapa hari menjelang hari H misiku, perasaan gugup dan takut semakin tidak bisa dibendung lagi. Aku sangat sulit untuk mengontrol ini semua. It seems like I’m gonna die as soon as possible.

Hari H pun tiba. Dari pagi aku sudah uring-uringan. Puncak dari rasa gugup dan takut itu pun semakin menjadi-jadi. Ditambah salah satu teman yang terus menakut-nakuti. AAAAHHHH, YOU DIE NENG! But… wait. Satu dua langkah kakiku menginjak lantai rumahnya, hingga tiba di depan sesosok pria yang sedang asyik tiduran dengan memegang telepon genggamnya. Dia terkejut. Dan saya pun masih bersama perasaan gugup dan takut. Lalu dia tersenyum dan menghampiriku. Mencium keningku dengan lembut. Mengusapkan telapak tangannya ke rambutku. Aku hanya bisa tersenyum malu.

Ya, inilah misinya dari beberapa minggu lalu. 2 Juli 2013, it’s your day. Happy birthday, You! I wish you all all all the best. I hope you like my mission and enjoy your day today J









Salam hangat,
Penggemar setiamu, D.

Sepenggal Cerita Sahabat

Hai, Jarwo.

Sosok pria di balik perawakannya yang “sangar”, dia memiliki hati yang amat baik. Memiliki perhatian lebih kepada orang-orang di sekitarnya. Memiliki sense of humor yang amat baik. Memiliki daya tarik yang cukup kuat untuk memikat para wanita.

Jarwo, sosok pria yang sudah saya kenal sejak kita masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Pada saat saya kelas 2 smp, saya berada dalam satu kelas dengannya. Selama satu tahun berada satu kelas dengannya, dia termasuk orang yang tegas, kuat, galak, namun tetap baik hati. Jarwo pintar beradaptasi di lingkungan sekitar, tidak heran bila dia memiliki teman di berbagai kalangan dengan daerah yang berbeda-beda. Dia tidak pernah memilih teman. Very welcome for the friendship. Setiap pulang sekolah, Jarwo sering nongkrong bersama teman-temannya di parkiran motor salah satu tempat les yang terletak sangat dekat dengan sekolah saya saat itu. Kita pun sering bersenda gurau bersama.
Tahun ajaran baru pun tiba. Ini sudah saatnya saya duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Tidak menyangka, saya berada dalam 1 sekolah lagi dengan Jarwo. Satu gedung, namun beda kelas. Satu tahun saja saya satu sekolah dengannya, ketika kenaikkan kelas tiba, dia pindah ke sekolah lain. Namun, pertemanan kita tidak berhenti disitu. Saya sering bermain bersamanya dan teman-teman yang lain di bilangan Bekasi Utara.

Beberapa tahun berlalu. Ini sudah 2013, saya sudah lupa kapan terakhir kali saya berjumpa dengan Jarwo. Sejak tahun 2012 saya sudah pergi merantau ke kota Solo untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri disana. Lama tak bersua, kabar baru tentang Jarwo pun datang. Bukan, bukan kabar bahwa dia telah sukses menjadi pilot dan mengajak kita (teman-temannya) untuk naik pesawat bersamanya, melainkan kabar duka. Kabar yang sangat mengejutkan di pagi hari pada hari senin. Jarwo telah meninggalkan kita. Meninggalkan teman, sahabat, keluarga dan kekasihnya. Secepat ini kah? Saya masih merasa ini hanya mimpi. Jarwo yang saya kenal adalah Jarwo yang kuat. Tapi kehendak Allah memang tidak ada satupun yang tahu. Kita semua sedih, berpuluh-puluh kerabat dekatmu mengantarmu ke rumah Allah, Wo. Kamu bisa lihat kan? Kamu sangat disayangi oleh orang-orang terdekatmu.


Dear Jarwo,
Kurang lebih 6 tahun sudah kita menjalin hubungan pertemanan dengan baik. Kamu adalah sosok yang kuat, tegas namun tetap baik hati. Tidak ada yang pernah mengira kamu akan pergi secepat ini. Namun, bukankah manusia yang baik akan di panggil lebih dulu olehNya? Kamu orang baik, Wo. Kamu memiliki banyak memori manis di hidup kita. Di hidup keluarga, teman, sahabat dan kekasihmu. Terimakasih telah mengajarkan saya bagaimana menjalani hidup tanpa mengeluh. Menjalani hidup tanpa sibuk mengurusi kehidupan orang. Terimakasih telah menjadi teman sekaligus kakka laki-laki yang baik untuk saya. Selamat jalan, Wo. Bahagia di rumah barumu bersama Allah yang sayang sekali denganmu, ya. Saya ikhlas. Kita semua ikhlas. Sampai jumpa di kehidupan lainnya.






Salam manis dari Solo untuk Jarwo (Fadjar Fadli R),
-Maryam Nica Qonita (Madam)-

Thursday, May 2, 2013

Kamu dan kuda besi tuamu

Malam ini hujan turun secara merata. Tidak memandang tempat dan waktu. Hujan turun begitu deras. Awalnya aku pikir itu adalah rinduku padamu. Sama-sama deras ketika terjatuh.

Malam ini, kamu terjebak hujan. Terjebak hujan karena ingin menemuiku. Kamu bertahan lalu memaksakan diri melawan derasnya hujan malam ini sampai akhirnya kamupun tiba di depan rumah kos-kosanku. Kamu terlihat basah kuyup bersama kuda besi tuamu itu. Namun, kamu selalu memberikan senyuman hangat kepadaku dalam kondisi kamu yang aku pikir pasti kamu sedang sangat kedinginan. Bersama kuda besi tuamu itu, kita tertawa dalam canda yang mengudara di sepanjang perjalanan menuju tempat-tempat yang kita tuju. Ini kali pertamanya aku menaiki kuda besi tua seperti ini. Rasanya beda. Lebih menyenangkan. Mungkin, karena aku menungganginya bersama kamu. Entah bagaimana rasanya bila aku menunggangi kuda besi tua seperti ini dengan tidak bersama kamu. Mungkin hambar rasanya.

Berbagai tempat telah kita datangi, kita tetap menyatu dalam canda. Rasanya aku tidak pernah kehilangan topik pembicaraan untuk mengobrol dengan kamu, Mr. Intellect. Suasana keceriaan kitapun semakin pecah setiap ada guyonan yang muncul entah dari aku ataupun kamu.

Teruntuk kamu, Mr. Intellect. Kamu dan kuda besi tuamu itu sama-sama menyenangkan. Sama-sama dapat menghiburku sehingga rasanya aku ingin menangis ketika tawaku semakin tak bisa di bendung lagi. Aku, penggemar setia kalian berdua.

- Maryam Qonita -
\o/

Tuesday, April 16, 2013

Badai Duri

Malam sabtu di meja nomor 1 pada salah satu kafe ternama di bilangan SMAN 2 Surakarta, saya duduk sendiri di hadapan laptop dengan cahaya yang bersinar cukup terang untuk tempat yang cahayanya cukup redup. Saya masih sibuk dengan kegiatan menulis cerita untuk blog saya. Malam ini saya sendiri, tidak bersama someone special. Semenjak tragedi itu terjadi, semua berubah. Terutama pada diri saya.

Beberapa hari yang lalu, saya berada pada suasana yang sangat membahagiakan. Bertemu dengan orang yang baru sampai akhirnya menjalin hubungan yang serius bersama orang tersebut. Saya Milla, sedang merasa sangat jatuh, jatuh cinta pada Coki, orang yang beberapa hari ini menemani saya. Saya begitu menyanyangi Coki, begitu juga sebaliknya, mungkin. Saya selalu bersama dengannya setiap hari. Coki memang rajin menjemput saya untuk berangkat maupun pulang ngampus, ataupun hanya sekedar untuk makan bersama. Coki termasuk pribadi yang baik, sabar dan sangat care kepada orang-orang yang ia sayangi.

Pada tanggal 15 Maret, kita bertemu dan berkenalan di salah satu kafe di kota Solo. Pada saat itu saya sendiri dan dia bersama teman-temannya. Terpisah jarak oleh beberapa meja, Coki mengamati saya dengan seksama yang sedang terlihat sibuk dengan laptop di hadapan saya. Entah apa yang sedang ia lakukan sekarang, pikirnya. Coki terus mengamati saya sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk menghampiri saya. Sekedar ingin tahu nama saja karena Coki udah merasa penasaran yang udah kepalang tanggung.

"Hai....." - Sapanya.

"Ya?", jawabku dengan sedikit cuek.

Maklum saya memang di kenal sebagai wanita yang terlalu cuek dengan keadaan dan orang-orang sekitar. Seketika raut wajah Coki berubah ketika mendengar jawaban saya yang begitu acuh.

"Eng... engga mba. Boleh minta tolong? Saya sedang ada urusan, dosen saya menghubungi saya untuk segera membuka email saya karena dia mengirimkan tugas yang harus di kasih tau malam ini juga ke teman-teman saya karena besok pagi sudah harus di kumpulkan. Saya tidak bisa pulang sekarang, di luar hujan lebat.", Ujarnya dengan gugup. Dia masih mencari celah untuk mengajak berkenalan.

Saya menoleh ke arah luar. Oh iya juga ya, gara-gara makai headset sejak tadi sampai gak sadar ternyata di luar udah hujan selebat itu, batinku.

"Oh gitu, oke saya akan pinjamkan laptop saya tapi tunggu berberapa menit ya. Saya ingin menyelesaikan tulisan saya dulu."

Dia mengangguk dan sambil di sertakan senyuman manisnya.

Beberapa menit berlalu saya masih sibuk mengetik. Wajah Coki sudah terlihat sangat bosan menunggu saya selesai. Akhirnya saya mengarahkan cursor pada laptop saya ke tulisan save. Saya me-draft sementara ketikan cerita yang saya buat malam ini.

"Nih, saya udah selesai. Jadi makai gak, Mas?", Ujar saya dengan wajah sedikit jutek.

"Ee.. eh i.. iya mba.", jawab Coki dengan terbata-bata dikarenakan masih terkejut dengan hentakan suara saya yang membuat dia sadar dari kantuknya.

Dengan cepat Coki mengambil alih laptopku, dia membuka new tab pada tampilan chrome saya dan mengetik www.yahoo.com untuk segera membuka emailnya. Sampailah dia pada halaman utama di emailnya. Lalu dia berkata....

"Loh kok ga ada email baru yang masuk, ya? Gimana sih ini dosen, ngeribetin aja.", Grutunya.

Saya masih diam. Sibuk dengan headset yang masih menggantung di kedua telinga saya. Akhirnya Coki meng-close halaman tersebut dan mencolek pundak saya. Saya melepaskan headset saya.

"Udah?", Tanyaku.

"Udah, Mba. Cuma sepertinya saya dikerjai oleh dosen saya. Tidak ada email darinya yang masuk. Maaf ya Mba merepotkan.", dia menjawab dengan tersenyum.

"Iya iya gak apa-apa. Santai aja."

"Oh yaudah, Mba. Saya kembali ke meja saya, ya. Teman-teman saya sudah menunggu daritadi. Sekali lagi saya minta maaf ya, Mba."

"Iya Mas, tidak apa-apa."

Kemudian Coki berdiri, beranjak dari tempat duduk yang sejak tadi ia duduki. Baru saja melangkahkan kaki satu langkah, dia membalikkan badannya ke arah saya.

"Oia, Mba. Eng.... Kalau boleh tau, nama Mba siapa ya? Kali aja nanti di lain tempat kita bertemu lagi. Siapa tau saat Mba lagi membutuhkan bantuan dan ingin minta bantuan saya kan biar ga canggung gitu, Mba. Hehehehe.", Basa-basinya.

"Oh oke, saya Milla.", saya memberikan tangan saya seperti orang yang berkenalan pada umumnya.

"Oke Milla, saya Coki. Panggilnya Coki saja, jangan mas ya hehehe", Dia memberikan tanggannya lalu menggengam tangan saya dan mengayunkannya sedikit. "Oia ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa jangan segan untuk menghubungi saya, ya?", Dia memberikan kartu namanya yang di sertai senyuman manis nan hangatnya.

"Oh oke, Coki.", Jawabku datar.

Beberapa minggu berlalu, kita tak saling bertemu lagi. Sampai suatu hari saya sedang asik menikmati suasana malam yang dingin di kamar, saya menemukan handphone saya berbunyi.

1 request.

Sebuah pin baru me-invite pin saya. Saya tidak tahu itu siapa. Sampai akhirnya saya me-accept-nya. Tidak berapa lama setelah itu muncullah nama baru di Recent Updates handphone saya. Coki Putra Irawan. Dheg! Nama ini sepertinya tidak asing untuk saya. Segeralah saya mengambil tas hitam saya, sekedar mengambil dompet dan mengambil secarik kertas kartu nama. Saya lihat kartu nama tersebut, dan ternyata memang Coki yang sama.

*drrrrt drrrrt*
Handphone saya bergetar saat ada 1 pesan baru yang masuk.

"Hei, Milla. Masih ingat saya?", Coki mengirimkan pesan singkat untuk saya.

"Iya, saya masih ingat. Ada apa?", Saya menjawabnya. Seperti biasa, apa adanya.

"Sebelumnya saya minta maaf bila saya mengambil pin kamu sembarangan dari handphone-nya Gum. Semenjak malam itu, saya tidak pernah bertemu kamu lagi. Kamu juga tidak pernah menghubungi saya. Jadi saya merasa seperti penasaran saja sama kamu.", Jelasnya panjang lebar.

"Oh dapet dari Gum? Iya iya gak apa-apa."

"Iya, Mil. :)"

Gum adalah teman seperantauan saya yang saya kenal dari satu komunitas yang mengasuh banyak mahasiswa perantau. Terutama, untuk perantau dari wilayah Jabodetabek.

Hanya segitu saja kita bercakap-cakap malam itu. Dan tidak pernah bercakap-cakap lagi.

Beberapa hari berlalu, saya masih selalu menikmati hari-hari saya. Menjalaninya dengan seorang diri, namun saya merasa cukup bahagia. Di pagi ini saya mendapatkan pesan singkat dari Coki lagi.

"Hello :)"

Entah apa yang ada di pikiran saya, saya hanya menjawab dengan "?". Dan dia tidak membalasnya lagi. Seperti hari-hari kemarin, kita hanya berbincang sedikit dan tidak berbincang lagi berhari-hari. Sampai akhirnya hari Kamis dini hari, waktu menunjukkan tepat jam 02.00 wib saya masih terjaga. Tak ada rasa kantuk. Sampai akhirnya saya iseng untuk mengganti display picture saya. Ternyata Coki-pun masih terjaga. Dan mengirimkan pesan. Lagi.

"Hai, Mil. Belum tidur?'

"Belum nih, Ki. Kamu juga?"

Berawal dari situ, kita semakin dekat. Dan hubungan baru kitapun di mulai.

Hanya dalam jangka waktu satu-dua minggu, saya merasakan banyak kecocokan antara saya dan Coki. Mengobrol atau hanya sekedar untuk berdekatan membuat saya merasakan kenyamanan tersendiri.

First date pun terjadi. Saya bertemu dengannya lagi. Hanya mengobrol, makan lalu pulang. Dan akhirnya, second date pun tak terhindarkan. Malam itu, di kafe Cassa di bilangan Manahan, dia memakai kemeja. Terlihat manis dan lebih tampan dari sebelumnya. Saya masih terpaku dengannya, maka dari itu saya selalu menyibukkan diri dengan handphone di hadapan saya agar tidak terus-menerus memperhatikannya dengan mata yang berbinar-binar. Bisa gede kepala dia kalau tau gue memperhatikan dia terus, batinku.

Hari-hari berlalu, kita semakin dekat. Semakin intensif waktu untuk bertemu. Dari kafe satu ke kafe satunya, atau bahkan ke tempat makan yang hanya di pinggiran jalan. Suasana terasa lebih menyenangkan, hawa dingin Solo terasa tak sehangat sebelumnya. Bahkan saya sama sekali seperti tidak merasakan hawa dingin Solo lagi.

Jumat malam tanggal 29 maret 2013, kita menyepakati perjanjian untuk pergi bersama. Malam itu saya dan Coki melaju kesana-kemari, mencari tempat makan yang juga comfortable untuk mengobrol. Tempat yang cocok pun telah di temukan, kita makan disertai canda-tawa khas masing-masing. Malam semakin larut, kita melaju lagi menuju rumah kos-kosan saya. Dalam perjalanan, tepat di bawah pepohonan yang rindang yang di selimuti kegelapan yang melekat, Coki menyatakan perasaannya. Saya hanya terdiam. Berbicara hanya untuk bertanya. Tak menjawab. Saya sudah sampai pada kamar A7 kos-kosan saya. Dan Coki masih berada dalam perasaan tidak tenang karena saya belum menjawab pertanyaannya.

Keesokkan harinya, Coki tetap mengajak saya jalan. Malam minggu, dia sudah berada di depan gerbang pintu kos-kosan saya yang diiringi oleh rintik hujan yang sejak tadi tak kunjung usai. Saya menyuruhnya masuk dan duduk di garasi kos-kosan untuk sekedar menunggu hujan meredakan dirinya sedikit.

Di sela-sela suara rintik hujan, saya memberanikan diri untuk menjawab pertanyaannya kemarin. Tidak menatap wajahnya. Saya menunduk, memegang handphone di tangan dengan erat. Sangat erat. Saya menjawab dengan di selipi candaan. Pada awalnya Coki sudah terlihat hopeless atas jawaban saya, namun ketika saya menegaskan untuk "mau" menjadi sebagian dari beberapa bagian di hidupnya ke depan, Coki tidak mampu menyembunyikan senyuman manis dan bahagianya di hadapan saya. Sesingkat itu lah kita mengikat janji baru kita diantara rintik hujan yang ada.

Hari-hari berlalu, kita sangat bahagia. Semakin menyayangi satu sama lain. Ya walaupun saya adalah salah satu pihak yang amat jarang mengucapkan I Love You atau sekedar kata pemanis di hubungan kita. Saya terlalu cuek, beda dengan Coki.

Hari ke-12 atas hubungan kita, terdapat masalah besar yang menghantam saya yang membuat saya amat terpuruk dan terus pretending bahwa tidak terjadi apa-apa dengan sering memberikan senyuman ke banyak orang di sekitar. Hubungan saya dan Coki termasuk hubungan yang adem-ayem. Tapi itu dulu, jauh sebelum orang di masa lalunya Coki datang.

Hari ke-13, kita sepakat untuk menyudahi hubungan manis nan singkat kita ini. Di hadapan Coki dan Gum saat itu, saya seperti masih terlihat sebagai orang yang selalu bahagia seperti sebelumnya. Namun, jauh di belakang itu semua, saya hancur. Ekspektasi atas hubungan ini yang sudah saya jaga dan saya kembangkan lenyap begitu saja. Saya merupakan salah satu orang yang tidak percaya dengan pernyataan "Angka 13 adalah angka sial". Namun kali ini, saya mengakuinya.

Ini kali keduanya saya menjalani hubungan sesingkat paket internet untuk smartphone. Sama-sama terpaku pada "orang di masa lalu". Entah mengapa bisa terjadi dua kali, ini terjadi semenjak saya pindah ke Solo.

Kejadian sore itu adalah puncak dari meledaknya segala perasaan yang menggangu batin saya. Perang batin? Iya. Sakit? Tentu saja. Ingin membalas? Tidak mau. Sabar? Selalu. Tetap senyum? Pasti.

Setelah kejadian itu, saya lebih sering berdiam diri. Namun, di depan banyak orang saya tetaplah Milla yang selalu ceria. Tak sepadan dengan keguncangan di dalam diri saya saat itu.

Sabtu siang, saya melaju ke daerah Cemani Baru. Bersandang ke rumah Bunda Salwa untuk pertama kalinya. Menenangkan pikiran di rumah itu. Suasana kekeluargaan yang amat saya rindukan sejak beberapa bulan yang lalu. Saya merasa lebih baik sejak bersama Bunda Salwa dan keluarganya beberapa hari ini.

Saya kembali ke kos-kosan saya yang nyaman ini. Saya sudah kuat. Saya tidak lemah. Saya siap menghadapi situasi sulit. Lagi. Saya....... Tetap dan akan selalu tersenyum.

Badai Duri...... Ya, saya menyebutnya seperti itu. Karena, saya seperti berada di situasi dimana badai duri telah terjadi. Jika saya bergerak saya akan tertancap salah satu duri yang berjatuhan. Namun, bila saya tidak bergerak, saya akan semakin terjebak atas duri-duri yang menyakitkan di sekeliling saya. Complicated.

Ah... Tidak terasa waktu telah menunjukkan jam 24.00. Saya masih berada di kafe ini. Masih nyaman menulis cerita di blog saya ini. Saya harus pulang. Layaknya cerita di blog, saya harus membuat cerita baru di kehidupan saya mulai hari ini dan seterusnya.

-Maryam Qonita-
\o/

Thursday, April 11, 2013

Feeling blue

Setiap orang pasti memiliki caranya sendiri untuk meluapkan kesedihannya. Dame, misalnya. Gadis semester II di salah satu perguruan tinggi negri di bilangan Kentingan, Surakarta, meluapkan rasa sedihnya dengan terus bercanda bersama teman-temannya. Tertawa, membicarakan hal-hal lucu serta jalan-jalan kemanapun asal bersama teman-temannya. Tidak ada yang menyangka bahwa dia sedang berada di posisi yang sangat menyakitkan serta menyedihkan. Setiap mata yang melihatnya pasti akan berpikiran bahwa dia adalah salah satu orang yang paling bahagia di dunia ini. Dengan tawa candanya, dia mampu memanipulasi keadaan. Dia mampu mengecohkan banyak mata yang memandangnya, menampakkan sebagai pribadi yang ceria. Namun sayangnya, di balik itu semua dia terpuruk. Jatuh, sakit, benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dia benar-benar salah satu orang yang paling menyedihkan. Menyedihkan karena di atas kesedihannya saja dia mampu ber-akting dengan baik. Benar-benar sulit di percaya.

Tapi..... Ya itulah manusia. Mereka punya banyak cara untuk menyembunyikan kelemahannya. Manusia selalu jago ber-akting. Tidak terkecuali, Dame.

Saturday, March 30, 2013

I'm shaking. I get it everyday. Did you ever think that I was not as strong as you think, God?

Wednesday, March 27, 2013

Hot Chocolate

Senin malam di pertengahan bulan maret, saya duduk sendiri di suatu cafe coffee ternama di bilangan Solo. Hot chocolate dan beberapa snack cemilan saya sudah tersaji di hadapan saya. Malam ini sangat dingin dan cafe pada malam ini pun begitu ramai. Entah kenapa. Satu demi satu pelanggan mulai berdatangan. Ada yang berdua entah bersama kekasih atau temannya, beramai-ramai bersama keluarga atau sendiri. Seperti saya. Mungkin dia jomblo. Hihihi.

Di meja nomor 9 saya masih asik dengan menu-menu di hadapan saya. Mengacuhkan segala macam suara maupun keadaan cafe yang begitu ramai sekalipun. Sendirian, di pojokan, makan berbagai macam makanan yang ada di meja saya serta bertubuh mungil seperti ini, mungkin banyak orang menyangka saya adalah anak hilang ketika melihat saya. Hahaha. I don't care. Perlahan suara gaduh di cafe mulai berkurang, saya baru menyadari ini sudah jam 10 malam. Ya, memang kebiasaan pada orang Solo jam 10 malam pasti sudah berada di rumah walaupun cafe ini buka sampai jam 12 malam. Jangankan jam 10 malam, terkadang jam setengah 9 saja kota Solo sudah sepi sekali layaknya jam 3 pagi di kota Jakarta. Sangat berbeda.

Hanya segelintir orang, termasuk saya, yang masih bertahan di cafe coffee ini. Sekarang yang saya lakuin hanya mengamati sekitar. Mengamati pelayan yang bekerja, mengamati segerombolan anak-anak remaja yang berkumpul untuk bertukar cerita serta canda-tawa, dan mengamati satu keluarga yang menghabiskan waktunya untung mengopi bersama. Untuk dua hal terakhir tadi, sangat berharga untuk saya. Pasalnya, saya adalah anak rantau yang jarang sekali bisa berkumpul dengan teman-teman terbaik saya, pun dengan keluarga. Rasanya senang dan rindu saat melihat suasana di cafe pada jam sekarang ini. Perlahan saya menyadari, saya mulai menyibukkan diri lagi kepada menu-menu di meja saya untuk mengalihkan perasaan itu.

Sekarang sudah jam 11 malam, saya masih betah untuk nongkrong sekedar nyemil-nyemil disini walaupun hanya sendirian. Ini jam-jamnya anak mudah nongkrong. Karena sepengamatan saya, pelanggan yang datang jam segini rata-rata anak muda semua. Jam segini-pun ternyata cafe ini masih diminati. Saya makin betah. Seengganya bukan saya saja yang betah untuk singgah disini. Hihihi.

Sesaat mata saya terpaku pada satu kelompok pria muda yang baru saja datang ke cafe ini. Bukan ke semua pria muda tersebut, lebih tepatnya terpaku pada satu pria. Pria yang memakai kemeja flannel yang di padu dengan jeans dan sepatunya memberikan kesan yang menarik perhatian tersendiri bagi saya. Mereka duduk di beberapa meja dari meja yang saya singgahi. Saya masih bisa menikmati si pria tersebut walau hanya dari sisi sampingnya saja. Senyumnya manis dan hangat seperti hot chocolate saya malam ini.

Lantunan salah satu lagu favourite saya Tulus - Teman Hidup yang menjadi ringtone untuk panggilan telepon pun mengudara di tengah keramaian cafe ini. Sebuah telepon dari salah satu teman terdekat saya di kota ini sekedar untuk menyuruh segera kembali ke kosan saya karena dia telah berada disana. Sepertinya dia akan bermalam di kosan saya hari ini. Segeralah saya menuju kasir untuk membayar. Setelah membayar saya pun bergegas untuk pulang, sesampainya di pintu cafe terdengar seseorang seperti mengejar dan memanggil-manggil saya.

"Mba.... Mba....", pria tersebut mengejar dan menepuk pundak saya dengan halus. Saya menoleh. Seketika, saya terdiam. Pria ini.... Pria si hot chocolate. (saya menyebutnya begitu).

"Ya, Mas. Ada apa?" saya menjawab dengan perlahan, menahan rasa gugup yang ternyata sejak tadi telah mengerubuti diri ini.

"Ini handphone-nya tertinggal di meja. Tadi saya tidak sengaja menemukannya, seingat saya terakhir Mba yang duduk disitu. Benar, kan?" Pria itu memberikan handphone saya dengan dibarengi senyum hot chocolatenya.

"Ha? Oh... Iya Mas. Aduh maaf ya jadi merepotkan, saya buru-buru sekali. Terimakasih ya, Mas." saya mengembalikan senyum yang sama kepadanya. Dan akhirnya dia meninggalkan saya dengan senyum khasnya sambil mengangguk lalu membalikkan badannya dan kembali ke meja bersama teman-temannya.

Hari pun berlalu, saya masih sering berada di meja nomor 9 favourite saya. Seperti biasa, sendirian dari jam 7-12 malam bersama beberapa cemilan. Namun, kali ini ada tambahan. Kali ini bersama beberapa lembar kertas dan tugas di laptop saya yang harus segera di selesaikan. Detik demi detik saya lewati dengan terus fokus pada tugas di hadapan saya. Saya merasa lelah, waktu menunjukkan pukul 10.00 wib. Saya melepas kacamata yang sejak tadi menyinggahi bagian wajah saya untuk sekedar istirahat sambil menikmati cemilan-cemilan yang sudah di pesan. Saya selalu menikmati hot chocolate cafe ini. Tidak terlalu pait, namun tidak terlalu manis pula. Semuanya pas. Saya menyenderkan kepala sejenak pada tembok di belakang saya serta memejamkan mata sambil menikmati hot chocolate ini. Sangat membuat nyaman dan tenang. Seketika saya terkejut akan kehadiran seseorang dihadapan saya saat saya membuka mata.

"Hai, saya Dimas. Kamu yang tempo hari meninggalkan handphonenya di meja ini, kan?" Pria ini tersenyum manis seperti malam itu. Ya, tentu saja. Siapa lagi kalau bukan pria si hot chocolate.

"Oh hai, saya Nica. Hahaha aduh maaf ya mas merepotkan kamu tempo hari. Saya memang suka ceroboh seperti itu." Saya menjawab dengan gugup namun sebisa mungkin saya masukkan senyum kecil saya di antar kalimat tersebut.

"Hahaha iya gak apa-apa kok. Untung saya yang menemukannya, kalau tidak kan bisa sayang banget ya. Handphonenya sih gak mahal, tapi data-datanya itu yang mahal banget, kan?"

"Hehehe iya, Mas. Duh saya berterimakasih banget loh, Mas. Terimakasih ya."  Saya tersenyum.

"Iya Mba sama-sama, ya." Dia membalas senyumanku.

Seketika kitapun larut akan suasana. Masih berbincang di satu meja yang sama. Kali ini dia datang sendirian dan duduk bersama saya. Pun kali ini suasana cafe menurut saya lebih meyenangkan dari sebelumnya. Beberapa jam berlalu, saatnya cafe di tutup. Kita berpisah. Tidak melakukan janjian untuk berbincang bersama lagi ataupun sekedar bertukar nomor telepon. Entahlah.

Beberapa minggu ini saya di sibukkan dengan tugas yang menumpuk. Hampir 3 minggu sudah saya tidak mendatangi cafe favourite saya. Saya terlalu sibuk. Ah rasanya rindu sekali saya dengan suasana cafe itu. Rindu juga dengan pria yang menemani saya saat terakhir saya ke cafe itu beberapa minggu lalu. Malam ini saya ingin berleha-leha saja di kamar kos. Sekedar iseng, saya membuka laptop saya dan mencari akun twitter pria itu. Aaaah! Ini dia akunnya. Dengan cepat saya membukanya. Dia termasuk pria yang jarang meng-update isi twitternya, beda sekali dengan saya. Saya terus amati tweet demi tweet di akun tersebut. Ada satu kicauannya yang membuat saya sangat terkejut. Sekaligus senang.

"Ini sudah minggu ke-3 setelah saya berbincang dengannya, namun sampai saat ini saya tidak melihatnya di sisi pojok cafe itu lagi. God bless you, miss." - Kicaunya.

Ah! Mungkin gak sih ini buat gue? Ah gak mungkin lah. Baru juga ngobrol bareng sekali masa segitunya, batinku. Terguncang oleh rasa ingin tahu berlebih, akhirnya saya memutuskan untuk lebih mencari tahu lewat twitter-nya itu. Dan postingan lainnya menjelaskan kalau tweet itu bukan untuk saya.

"@ViolaDina hehehe kemana aja kok gak keliatan di cafe lagi?" Dheg! GR lo, Ca.

2 minggu berlalu setelah saya meng-kepo akunnya. Malam ini saya sudah duduk di meja pada cafe favourite saya. Malam ini sangat ramai, entah ada apa. Tepat jam 10 malam, Dimas muncul di cafe ini lagi. Dan duduk pada satu meja denganku. Lagi.

"Hei, kemana saja kamu? Lama gak kesini. Sudah punya kekasih, ya? Hehehe" Candanya.

"Bisa aja kamu, Dim. Hehehe engga kok, aku lagi sibuk sama tugas kuliah yang numpuk nih. Dan sekarang udah selesai, jadi baru sempet kesini deh." Jawabku santai.

Beraneka ragam topik pembicaraan kita bicarakan malam ini. Mulai dari yang bercanda-canda, ke ranah politik maupun pendidikan, sampai akhirnya ke hal-hal serius.

"Beberapa minggu ini saya mencari kamu. Entah kenapa sejak malam itu saya kepikiran kamu terus. Ini memang terdengar gila, kita baru kenal dan bahkan baru mengobrol bersama satu kali. Tapi ini nyata, saya merasakannya. Saya tahu kamu pasti gak akan percaya, yang jelas, saya suka dengan kamu, Ca. Beberapa minggu ini saya mencari keberadaan kamu, mulai dari kos-mu, nomor teleponmu bahkan sampai akun-akun jejaring sosialmu."

Dheg! Seketika saya serasa dicekik. Saya tidak bisa bernapas layaknya orang normal. Saya bingung.

"Saya yakin dengan kamu. Karena bukankah bila memang saling menyukai keduanya akan saling mencari? Kamu telah mencari saya. Lewat kicauanmu "Malam ini tidak semanis dan sehangat kemarin, ketika pria itu memberikan handphone saya yang tertinggal. Kira-kira dia dimana, ya?" saya yakin kamu mencari saya."

Dheg! Saya baru inget akan status yang pernah saya update beberapa minggu lalu. Sekilas saya memperhatikan bola matanya, bola mata yang menunjukkan bahwa apa yang dia bicarakan adalah nyata adanya. Tidak ada garis kebohongan yang tersirat disana. Dan kemudian saya memberanikan diri untuk bertanya.

"Jadi update-an kamu yang mencari itu bukan untuk viola dina?"

Dia tersenyum, "Tentu saja bukan. Dia sepupu aku yang sering ke cafe Rooster di daerah manahan itu. Setelah malam itu kamu tidak kelihatan lagi selama 4 minggu lebih, saya fikir kamu mau menjauhi saya. Akhirnya saya memutuskan untuk sekedar nongkrong di cafe yang sering saya datangi bersama sepupu saya itu."

Saya terdiam. Tidak berkata satu patah kata apapun. Dan dia tetap memperhatikanku dalam-dalam. Sangat dalam.

"Ca, bukankah yang sudah merasa cocok dan yakin tidak perlu diminta untuk menunggu?"

Saya menunduk. Kemudian mengangkat kepala perlahan. Tersenyum lega. Menahan tangis. Tangis bahagia. Bahagia karena perasaan saya sama dengan perasaannya. Dan kemudian saya memeluknya erat. Erat sekali. Dan cerita baru kita pun di mulai malam itu..........

Teruntuk, pria hot chocolate.
Malam ini di cafe favourite kita serta di meja favouriteku, kita menjanjikan sesuatu.
Menjajikan suatu perjanjian atas hubungan baru kita.
Malam ini terasa lebih hangat, karena ada kamu disini menemaniku sekedar menikmati hot chocolate kesukaanku dengan tawa, canda, serta senyummu yang menghangatkan.
Kamu adalah sebagian dari khayalanku beberapa minggu ini.
Namun, sekarang kamu menjadi bagian dari beberapa kehidupanku kedepannya.
Tetaplah bersamaku, menjalani hubungan ini dengan baik dan menyempurnakannya di pelaminan nanti.

-Maryam Qonita-
\o/

Friday, March 22, 2013

Wedding Proposal

Wedding proposal? Ada apa dengan wedding proposal? And here you go....

Di kamar kos-kosan nomor A7, saya masih terjaga pada pagi ini. Waktu menunjukkan pukul 1:42. Saya selalu memiliki kebiasaan buruk untuk tidur terlalu larut. Seperti sekarang. Lama-lama bosan juga ya menonton acara televisi dari siang sampai sekarang, pikirku. Lalu saya menyalakan laptop silver saya. Menyelami dunia maya adalah kegiatan rutin yang selalu saya jalani. Entah mau sampai kapan kegiatan ini bertahan pada kegiatan sehari-hari saya. Hingga akhirnya malam ini sampailah saya di satu situs ternama, Youtube. Tanpa basa-basi saya langsung mengetik keyword di kolom search, "Wedding Proposal". And here I go....... Beberapa video telah saya lihat. Nangis? Selalu! Kejer? Banget. Dengan melihat via video saja saya sangat merasakan rasanya gemeteran, sedih, senang dan speechless yang melebur menjadi satu dalam satu kondisi. Merindiiiiiiiiiiiiing.

Bertengger di situs satu itu memang menjadi kegiatan rutin saya bila tidak memiliki kegiatan apapun yang akhirnya hanya berleyeh-leyeh di kasur. Dan untuk masalah sejak kapan saya jadi suka menonton video lamaran itu saya juga tidak tau pasti kapannya. Yang jelas saya rajin mantengin layar Youtube untuk melihat video lamaran sejak beberapa selebtwit yang saya follow di Twitter me-share pengalaman mereka waktu di lamar. Romantis semua. Seketika saya jadi penonton setia video-video itu.

Usia saya baru saja 18 tahun. Dan dampak dari kesetiaan saya menonton video-video itu adalah....... Saya ngidam di lamar segera dengan cara romantis seperti di video-video itu!!! Oh my goodness, labil banget sih, Ca. Ok, sorry. Yang jelas sih impian saya dari dulu masih sama, yaitu mau nikah muda. Kurang lebih umur 23-24an lah dan kira-kira sih setelah wisuda S1. And... I believe that someday I'll be in their(her) position. Akan ada saatnya nanti saya yang di posisi para wanita di video tersebut merasakan senang, kaget dan terharu yang menyatu di saat yang bersamaan dengan jodoh saya nanti.

-Maryam Qonita-
\o/

Thursday, March 21, 2013

Amico!

HOLIDAAAAAAAAAAAAY!
Yap. Liburan telah datang. Liburan semester awal hanya selama 1 bulan saja. So I choose to went home ASAP.

5 Januari 2013, saya beranjak pergi meninggalkan kota Solo menuju kota indah lainnya. Ya, apalagi kalau bukan Yogyakarta. Saya menginap dirumah bude saya selama 5 hari sampai tanggal keberangkatan menuju Bekasi tiba. 5 hari di Yogya tidak pernah saya sia-siakan. Antusiasme saya ketika menginjak kota tersebut sangat besar, padahal saya sudah berkali-kali datang ke kota ini. Sama sekali tidak merasakan jenuh akan suasana, jalan atau keramaian orang di kota tersebut. Ah... Selalu rindu.

10 Januari 2013 pukul 16:00, saya kembali ke kota Bekasi dengan menumpangi salah satu maskapai penerbangan ternama di Indonesia. Sesampainya di Bandar udara International Soekarno-Hatta, Cengkareng, saya merasa begitu senang. Entah apa yang terjadi di dalam diri saya. Di setiap bagian dari perjalanan saya menuju rumah, saya terus mengamati sekitar. Mengamati dengan seksama disertai senyum kecil yang melengkung dibibir kecil saya. Begitu senang. Benar-benar tidak bisa di deskripsikan. Ah... Finally I'm home. I met all my friends and my family agaiiiiiiiiin!

Hari pertama menginjak Bekasi, tanpa basa-basi saya menyalakan motor merah seperjuangan saya sejak SMP menuju rumah salah satu sahabat saya, Retno Mentari. Semua canda, tawa, cerita melebur menjadi satu mengudara ditengah dinginnya Air Conditioner di kamarnya. Kangeeeeeeeeeeeen. Kangen banget.  Lalu, pada hari-hari berikutnya, benar-benar saya manfaatkan untuk berkumpul dengan Amico. Kita datang ke acara sekolah kita yang selalu diadakan setiap tahun. Acara yang sangat bergengsi di wilayah Bekasi dan sekitarnya, ya, Porseni & Mipa tingkat Nasional! Lagi-lagi, kita berkumpul tak pernah tidak tertawa terbahak-bahak. Selalu ada saja yang membuat kita tertawa. Selalu ada.

Hari-hari berlalu, waktu untuk keluarga sudah cukup banyaaaaaak saya berikan, dan tetap, saya selalu memprioritaskan Amico. Entah mengapa. Hari Rabu 13 februari 2013, saya memiliki janji untuk menemani sahabat saya yang lain, Inggit Saridewi, namun tetap bersama Retno Mentari. Saya dan Retno menemani Inggit ke kampusnya untuk mengambil kertas bayaran. Seperti biasa, bila kami udah berjalan-jalan, yang namanya langsung pulang ke rumah itu adalah hal paling tidak mungkin. Akhirnya kita pergi ke salah satu Mall terkenal dekat kampus Al-Azhar Indonesia. Sayangnya, saat itu Kheisya Sheyna sahabat saya yang lain tidak bisa ikut. Rasanya belum lengkap kalau Amico hanya bertiga.

Tidak terasa liburan telah usai. Saya kembali ke Solo lagi. Meneruskan pendidikan saya di kota itu. Merasa sedih lagi, kangen lagi, gak rela lagi, tapi.... Ya apa boleh buat.

(pssttt... Ini adalah beberapa foto yang di ambil bersama Amico saat liburan kemarin.)













































(Lokasi: Wendy's, Jco, SMA Korpri Bekasi dan Rumah Saya.)

Teruntuk, Amico.
Suatu persahabatan tidak akan terasa begitu berarti bila tidak di jalani dengan canda, tawa, tangis, amarah dan keegoisan satu sama lain.
Mengenal kalian bukanlah suatu kesalahan untukku. Karena kalian memberikan satu pengalaman hidup yang berarti pada hidupku.
Menghabiskan waktu berjam-jam bersama kalian-pun bukanlah suatu kesalahan, melainkan suatu keharusan. Karena kalian bisa berbagi segala rasa yang ada membuat semuanya terasa lebih indah.
Amico, kalian bukanlah sekedar sahabat untuk saya. Kalian lebih dari sahabat. Kalian adalah keluarga saya. Keluarga yang sangat saya sayangi.
Semoga kita akan terus menjadi gila dan selalu bersama sampai nanti Tuhan tidak mengizinkan kita bersama lagi, ya.
See you at the next holiday, in July!

-Maryam Qonita-
\o/