Saturday, March 30, 2013

I'm shaking. I get it everyday. Did you ever think that I was not as strong as you think, God?

Wednesday, March 27, 2013

Hot Chocolate

Senin malam di pertengahan bulan maret, saya duduk sendiri di suatu cafe coffee ternama di bilangan Solo. Hot chocolate dan beberapa snack cemilan saya sudah tersaji di hadapan saya. Malam ini sangat dingin dan cafe pada malam ini pun begitu ramai. Entah kenapa. Satu demi satu pelanggan mulai berdatangan. Ada yang berdua entah bersama kekasih atau temannya, beramai-ramai bersama keluarga atau sendiri. Seperti saya. Mungkin dia jomblo. Hihihi.

Di meja nomor 9 saya masih asik dengan menu-menu di hadapan saya. Mengacuhkan segala macam suara maupun keadaan cafe yang begitu ramai sekalipun. Sendirian, di pojokan, makan berbagai macam makanan yang ada di meja saya serta bertubuh mungil seperti ini, mungkin banyak orang menyangka saya adalah anak hilang ketika melihat saya. Hahaha. I don't care. Perlahan suara gaduh di cafe mulai berkurang, saya baru menyadari ini sudah jam 10 malam. Ya, memang kebiasaan pada orang Solo jam 10 malam pasti sudah berada di rumah walaupun cafe ini buka sampai jam 12 malam. Jangankan jam 10 malam, terkadang jam setengah 9 saja kota Solo sudah sepi sekali layaknya jam 3 pagi di kota Jakarta. Sangat berbeda.

Hanya segelintir orang, termasuk saya, yang masih bertahan di cafe coffee ini. Sekarang yang saya lakuin hanya mengamati sekitar. Mengamati pelayan yang bekerja, mengamati segerombolan anak-anak remaja yang berkumpul untuk bertukar cerita serta canda-tawa, dan mengamati satu keluarga yang menghabiskan waktunya untung mengopi bersama. Untuk dua hal terakhir tadi, sangat berharga untuk saya. Pasalnya, saya adalah anak rantau yang jarang sekali bisa berkumpul dengan teman-teman terbaik saya, pun dengan keluarga. Rasanya senang dan rindu saat melihat suasana di cafe pada jam sekarang ini. Perlahan saya menyadari, saya mulai menyibukkan diri lagi kepada menu-menu di meja saya untuk mengalihkan perasaan itu.

Sekarang sudah jam 11 malam, saya masih betah untuk nongkrong sekedar nyemil-nyemil disini walaupun hanya sendirian. Ini jam-jamnya anak mudah nongkrong. Karena sepengamatan saya, pelanggan yang datang jam segini rata-rata anak muda semua. Jam segini-pun ternyata cafe ini masih diminati. Saya makin betah. Seengganya bukan saya saja yang betah untuk singgah disini. Hihihi.

Sesaat mata saya terpaku pada satu kelompok pria muda yang baru saja datang ke cafe ini. Bukan ke semua pria muda tersebut, lebih tepatnya terpaku pada satu pria. Pria yang memakai kemeja flannel yang di padu dengan jeans dan sepatunya memberikan kesan yang menarik perhatian tersendiri bagi saya. Mereka duduk di beberapa meja dari meja yang saya singgahi. Saya masih bisa menikmati si pria tersebut walau hanya dari sisi sampingnya saja. Senyumnya manis dan hangat seperti hot chocolate saya malam ini.

Lantunan salah satu lagu favourite saya Tulus - Teman Hidup yang menjadi ringtone untuk panggilan telepon pun mengudara di tengah keramaian cafe ini. Sebuah telepon dari salah satu teman terdekat saya di kota ini sekedar untuk menyuruh segera kembali ke kosan saya karena dia telah berada disana. Sepertinya dia akan bermalam di kosan saya hari ini. Segeralah saya menuju kasir untuk membayar. Setelah membayar saya pun bergegas untuk pulang, sesampainya di pintu cafe terdengar seseorang seperti mengejar dan memanggil-manggil saya.

"Mba.... Mba....", pria tersebut mengejar dan menepuk pundak saya dengan halus. Saya menoleh. Seketika, saya terdiam. Pria ini.... Pria si hot chocolate. (saya menyebutnya begitu).

"Ya, Mas. Ada apa?" saya menjawab dengan perlahan, menahan rasa gugup yang ternyata sejak tadi telah mengerubuti diri ini.

"Ini handphone-nya tertinggal di meja. Tadi saya tidak sengaja menemukannya, seingat saya terakhir Mba yang duduk disitu. Benar, kan?" Pria itu memberikan handphone saya dengan dibarengi senyum hot chocolatenya.

"Ha? Oh... Iya Mas. Aduh maaf ya jadi merepotkan, saya buru-buru sekali. Terimakasih ya, Mas." saya mengembalikan senyum yang sama kepadanya. Dan akhirnya dia meninggalkan saya dengan senyum khasnya sambil mengangguk lalu membalikkan badannya dan kembali ke meja bersama teman-temannya.

Hari pun berlalu, saya masih sering berada di meja nomor 9 favourite saya. Seperti biasa, sendirian dari jam 7-12 malam bersama beberapa cemilan. Namun, kali ini ada tambahan. Kali ini bersama beberapa lembar kertas dan tugas di laptop saya yang harus segera di selesaikan. Detik demi detik saya lewati dengan terus fokus pada tugas di hadapan saya. Saya merasa lelah, waktu menunjukkan pukul 10.00 wib. Saya melepas kacamata yang sejak tadi menyinggahi bagian wajah saya untuk sekedar istirahat sambil menikmati cemilan-cemilan yang sudah di pesan. Saya selalu menikmati hot chocolate cafe ini. Tidak terlalu pait, namun tidak terlalu manis pula. Semuanya pas. Saya menyenderkan kepala sejenak pada tembok di belakang saya serta memejamkan mata sambil menikmati hot chocolate ini. Sangat membuat nyaman dan tenang. Seketika saya terkejut akan kehadiran seseorang dihadapan saya saat saya membuka mata.

"Hai, saya Dimas. Kamu yang tempo hari meninggalkan handphonenya di meja ini, kan?" Pria ini tersenyum manis seperti malam itu. Ya, tentu saja. Siapa lagi kalau bukan pria si hot chocolate.

"Oh hai, saya Nica. Hahaha aduh maaf ya mas merepotkan kamu tempo hari. Saya memang suka ceroboh seperti itu." Saya menjawab dengan gugup namun sebisa mungkin saya masukkan senyum kecil saya di antar kalimat tersebut.

"Hahaha iya gak apa-apa kok. Untung saya yang menemukannya, kalau tidak kan bisa sayang banget ya. Handphonenya sih gak mahal, tapi data-datanya itu yang mahal banget, kan?"

"Hehehe iya, Mas. Duh saya berterimakasih banget loh, Mas. Terimakasih ya."  Saya tersenyum.

"Iya Mba sama-sama, ya." Dia membalas senyumanku.

Seketika kitapun larut akan suasana. Masih berbincang di satu meja yang sama. Kali ini dia datang sendirian dan duduk bersama saya. Pun kali ini suasana cafe menurut saya lebih meyenangkan dari sebelumnya. Beberapa jam berlalu, saatnya cafe di tutup. Kita berpisah. Tidak melakukan janjian untuk berbincang bersama lagi ataupun sekedar bertukar nomor telepon. Entahlah.

Beberapa minggu ini saya di sibukkan dengan tugas yang menumpuk. Hampir 3 minggu sudah saya tidak mendatangi cafe favourite saya. Saya terlalu sibuk. Ah rasanya rindu sekali saya dengan suasana cafe itu. Rindu juga dengan pria yang menemani saya saat terakhir saya ke cafe itu beberapa minggu lalu. Malam ini saya ingin berleha-leha saja di kamar kos. Sekedar iseng, saya membuka laptop saya dan mencari akun twitter pria itu. Aaaah! Ini dia akunnya. Dengan cepat saya membukanya. Dia termasuk pria yang jarang meng-update isi twitternya, beda sekali dengan saya. Saya terus amati tweet demi tweet di akun tersebut. Ada satu kicauannya yang membuat saya sangat terkejut. Sekaligus senang.

"Ini sudah minggu ke-3 setelah saya berbincang dengannya, namun sampai saat ini saya tidak melihatnya di sisi pojok cafe itu lagi. God bless you, miss." - Kicaunya.

Ah! Mungkin gak sih ini buat gue? Ah gak mungkin lah. Baru juga ngobrol bareng sekali masa segitunya, batinku. Terguncang oleh rasa ingin tahu berlebih, akhirnya saya memutuskan untuk lebih mencari tahu lewat twitter-nya itu. Dan postingan lainnya menjelaskan kalau tweet itu bukan untuk saya.

"@ViolaDina hehehe kemana aja kok gak keliatan di cafe lagi?" Dheg! GR lo, Ca.

2 minggu berlalu setelah saya meng-kepo akunnya. Malam ini saya sudah duduk di meja pada cafe favourite saya. Malam ini sangat ramai, entah ada apa. Tepat jam 10 malam, Dimas muncul di cafe ini lagi. Dan duduk pada satu meja denganku. Lagi.

"Hei, kemana saja kamu? Lama gak kesini. Sudah punya kekasih, ya? Hehehe" Candanya.

"Bisa aja kamu, Dim. Hehehe engga kok, aku lagi sibuk sama tugas kuliah yang numpuk nih. Dan sekarang udah selesai, jadi baru sempet kesini deh." Jawabku santai.

Beraneka ragam topik pembicaraan kita bicarakan malam ini. Mulai dari yang bercanda-canda, ke ranah politik maupun pendidikan, sampai akhirnya ke hal-hal serius.

"Beberapa minggu ini saya mencari kamu. Entah kenapa sejak malam itu saya kepikiran kamu terus. Ini memang terdengar gila, kita baru kenal dan bahkan baru mengobrol bersama satu kali. Tapi ini nyata, saya merasakannya. Saya tahu kamu pasti gak akan percaya, yang jelas, saya suka dengan kamu, Ca. Beberapa minggu ini saya mencari keberadaan kamu, mulai dari kos-mu, nomor teleponmu bahkan sampai akun-akun jejaring sosialmu."

Dheg! Seketika saya serasa dicekik. Saya tidak bisa bernapas layaknya orang normal. Saya bingung.

"Saya yakin dengan kamu. Karena bukankah bila memang saling menyukai keduanya akan saling mencari? Kamu telah mencari saya. Lewat kicauanmu "Malam ini tidak semanis dan sehangat kemarin, ketika pria itu memberikan handphone saya yang tertinggal. Kira-kira dia dimana, ya?" saya yakin kamu mencari saya."

Dheg! Saya baru inget akan status yang pernah saya update beberapa minggu lalu. Sekilas saya memperhatikan bola matanya, bola mata yang menunjukkan bahwa apa yang dia bicarakan adalah nyata adanya. Tidak ada garis kebohongan yang tersirat disana. Dan kemudian saya memberanikan diri untuk bertanya.

"Jadi update-an kamu yang mencari itu bukan untuk viola dina?"

Dia tersenyum, "Tentu saja bukan. Dia sepupu aku yang sering ke cafe Rooster di daerah manahan itu. Setelah malam itu kamu tidak kelihatan lagi selama 4 minggu lebih, saya fikir kamu mau menjauhi saya. Akhirnya saya memutuskan untuk sekedar nongkrong di cafe yang sering saya datangi bersama sepupu saya itu."

Saya terdiam. Tidak berkata satu patah kata apapun. Dan dia tetap memperhatikanku dalam-dalam. Sangat dalam.

"Ca, bukankah yang sudah merasa cocok dan yakin tidak perlu diminta untuk menunggu?"

Saya menunduk. Kemudian mengangkat kepala perlahan. Tersenyum lega. Menahan tangis. Tangis bahagia. Bahagia karena perasaan saya sama dengan perasaannya. Dan kemudian saya memeluknya erat. Erat sekali. Dan cerita baru kita pun di mulai malam itu..........

Teruntuk, pria hot chocolate.
Malam ini di cafe favourite kita serta di meja favouriteku, kita menjanjikan sesuatu.
Menjajikan suatu perjanjian atas hubungan baru kita.
Malam ini terasa lebih hangat, karena ada kamu disini menemaniku sekedar menikmati hot chocolate kesukaanku dengan tawa, canda, serta senyummu yang menghangatkan.
Kamu adalah sebagian dari khayalanku beberapa minggu ini.
Namun, sekarang kamu menjadi bagian dari beberapa kehidupanku kedepannya.
Tetaplah bersamaku, menjalani hubungan ini dengan baik dan menyempurnakannya di pelaminan nanti.

-Maryam Qonita-
\o/

Friday, March 22, 2013

Wedding Proposal

Wedding proposal? Ada apa dengan wedding proposal? And here you go....

Di kamar kos-kosan nomor A7, saya masih terjaga pada pagi ini. Waktu menunjukkan pukul 1:42. Saya selalu memiliki kebiasaan buruk untuk tidur terlalu larut. Seperti sekarang. Lama-lama bosan juga ya menonton acara televisi dari siang sampai sekarang, pikirku. Lalu saya menyalakan laptop silver saya. Menyelami dunia maya adalah kegiatan rutin yang selalu saya jalani. Entah mau sampai kapan kegiatan ini bertahan pada kegiatan sehari-hari saya. Hingga akhirnya malam ini sampailah saya di satu situs ternama, Youtube. Tanpa basa-basi saya langsung mengetik keyword di kolom search, "Wedding Proposal". And here I go....... Beberapa video telah saya lihat. Nangis? Selalu! Kejer? Banget. Dengan melihat via video saja saya sangat merasakan rasanya gemeteran, sedih, senang dan speechless yang melebur menjadi satu dalam satu kondisi. Merindiiiiiiiiiiiiing.

Bertengger di situs satu itu memang menjadi kegiatan rutin saya bila tidak memiliki kegiatan apapun yang akhirnya hanya berleyeh-leyeh di kasur. Dan untuk masalah sejak kapan saya jadi suka menonton video lamaran itu saya juga tidak tau pasti kapannya. Yang jelas saya rajin mantengin layar Youtube untuk melihat video lamaran sejak beberapa selebtwit yang saya follow di Twitter me-share pengalaman mereka waktu di lamar. Romantis semua. Seketika saya jadi penonton setia video-video itu.

Usia saya baru saja 18 tahun. Dan dampak dari kesetiaan saya menonton video-video itu adalah....... Saya ngidam di lamar segera dengan cara romantis seperti di video-video itu!!! Oh my goodness, labil banget sih, Ca. Ok, sorry. Yang jelas sih impian saya dari dulu masih sama, yaitu mau nikah muda. Kurang lebih umur 23-24an lah dan kira-kira sih setelah wisuda S1. And... I believe that someday I'll be in their(her) position. Akan ada saatnya nanti saya yang di posisi para wanita di video tersebut merasakan senang, kaget dan terharu yang menyatu di saat yang bersamaan dengan jodoh saya nanti.

-Maryam Qonita-
\o/

Thursday, March 21, 2013

Amico!

HOLIDAAAAAAAAAAAAY!
Yap. Liburan telah datang. Liburan semester awal hanya selama 1 bulan saja. So I choose to went home ASAP.

5 Januari 2013, saya beranjak pergi meninggalkan kota Solo menuju kota indah lainnya. Ya, apalagi kalau bukan Yogyakarta. Saya menginap dirumah bude saya selama 5 hari sampai tanggal keberangkatan menuju Bekasi tiba. 5 hari di Yogya tidak pernah saya sia-siakan. Antusiasme saya ketika menginjak kota tersebut sangat besar, padahal saya sudah berkali-kali datang ke kota ini. Sama sekali tidak merasakan jenuh akan suasana, jalan atau keramaian orang di kota tersebut. Ah... Selalu rindu.

10 Januari 2013 pukul 16:00, saya kembali ke kota Bekasi dengan menumpangi salah satu maskapai penerbangan ternama di Indonesia. Sesampainya di Bandar udara International Soekarno-Hatta, Cengkareng, saya merasa begitu senang. Entah apa yang terjadi di dalam diri saya. Di setiap bagian dari perjalanan saya menuju rumah, saya terus mengamati sekitar. Mengamati dengan seksama disertai senyum kecil yang melengkung dibibir kecil saya. Begitu senang. Benar-benar tidak bisa di deskripsikan. Ah... Finally I'm home. I met all my friends and my family agaiiiiiiiiin!

Hari pertama menginjak Bekasi, tanpa basa-basi saya menyalakan motor merah seperjuangan saya sejak SMP menuju rumah salah satu sahabat saya, Retno Mentari. Semua canda, tawa, cerita melebur menjadi satu mengudara ditengah dinginnya Air Conditioner di kamarnya. Kangeeeeeeeeeeeen. Kangen banget.  Lalu, pada hari-hari berikutnya, benar-benar saya manfaatkan untuk berkumpul dengan Amico. Kita datang ke acara sekolah kita yang selalu diadakan setiap tahun. Acara yang sangat bergengsi di wilayah Bekasi dan sekitarnya, ya, Porseni & Mipa tingkat Nasional! Lagi-lagi, kita berkumpul tak pernah tidak tertawa terbahak-bahak. Selalu ada saja yang membuat kita tertawa. Selalu ada.

Hari-hari berlalu, waktu untuk keluarga sudah cukup banyaaaaaak saya berikan, dan tetap, saya selalu memprioritaskan Amico. Entah mengapa. Hari Rabu 13 februari 2013, saya memiliki janji untuk menemani sahabat saya yang lain, Inggit Saridewi, namun tetap bersama Retno Mentari. Saya dan Retno menemani Inggit ke kampusnya untuk mengambil kertas bayaran. Seperti biasa, bila kami udah berjalan-jalan, yang namanya langsung pulang ke rumah itu adalah hal paling tidak mungkin. Akhirnya kita pergi ke salah satu Mall terkenal dekat kampus Al-Azhar Indonesia. Sayangnya, saat itu Kheisya Sheyna sahabat saya yang lain tidak bisa ikut. Rasanya belum lengkap kalau Amico hanya bertiga.

Tidak terasa liburan telah usai. Saya kembali ke Solo lagi. Meneruskan pendidikan saya di kota itu. Merasa sedih lagi, kangen lagi, gak rela lagi, tapi.... Ya apa boleh buat.

(pssttt... Ini adalah beberapa foto yang di ambil bersama Amico saat liburan kemarin.)













































(Lokasi: Wendy's, Jco, SMA Korpri Bekasi dan Rumah Saya.)

Teruntuk, Amico.
Suatu persahabatan tidak akan terasa begitu berarti bila tidak di jalani dengan canda, tawa, tangis, amarah dan keegoisan satu sama lain.
Mengenal kalian bukanlah suatu kesalahan untukku. Karena kalian memberikan satu pengalaman hidup yang berarti pada hidupku.
Menghabiskan waktu berjam-jam bersama kalian-pun bukanlah suatu kesalahan, melainkan suatu keharusan. Karena kalian bisa berbagi segala rasa yang ada membuat semuanya terasa lebih indah.
Amico, kalian bukanlah sekedar sahabat untuk saya. Kalian lebih dari sahabat. Kalian adalah keluarga saya. Keluarga yang sangat saya sayangi.
Semoga kita akan terus menjadi gila dan selalu bersama sampai nanti Tuhan tidak mengizinkan kita bersama lagi, ya.
See you at the next holiday, in July!

-Maryam Qonita-
\o/


Wednesday, March 20, 2013

Hitam putih

Malam ini di hari Selasa pertengahan bulan Maret terasa dingin. Sangat dingin. Aku melangkahkan kaki ke dapur untuk membuat secangkir cokelat panas. Ya, cokelat panas. Salah satu minuman favourite saya. Ada dingin yang terselimuti rasa manis dan hangatnya cokelat panas di kala musim dingin seperti ini. Seperti cinta. Berbagai macam rasa bercampur menjadi satu. Entah bagaimana prosesnya, cinta membuat beberapa hal menjadi terasa lebih manis, membuatnya ingin terus bersama merasakan kehangatan yang ada dan berubah menjadi dingin ketika perbedaan pendapat di dalam cinta mulai mencuak ke dasar hubungan 2 insan manusia.

Kota Solo. Kota dimana semuanya terlihat tenang, indah dan nyaman. Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang di sepanjang jalan Solo. Tapi itu hanya pada saat awal saya pindah ke Solo untuk meneruskan pendidikan saya. Sekarang, Solo begitu ramai. Ramai akan kendaraan yang semakin banyak berlalu lalang. Namun tetap, tetap saja Solo menurutku adalah kota yang paling indah. Banyak cerita di setiap jalan, tempat, hari, waktu dan detiknya. Terlalu istimewa untuk di acuhkan begitu saja.

Menginjak waktu hampir 1 tahun, saya menetap di Solo. Bertahan dengan damai dan tenang. Hari-hari saya terasa cukup menyenangkan. Walaupun... Saya tidak di dampingi orang spesial disini. Tapi itu tidak menjadi masalah. Bila sudah waktunya, dia pasti akan datang sendiri, kan?

Ini sudah jam 12 malam. Saya masih terjaga. As always. This is my bad habbit. Saya tidak bisa tidur cepat layaknya anak kecil yang jam 9 sudah tidur terlelap. Entah sejak kapan kebiasaan buruk ini mulai bekerja. Di sela-sela kejenuhan atas insomnia ini saya banyak menghabiskan waktu menjelajahi dunia maya. Mulai dari googling, blogging, tumblr-ing dan sampai kepada situs terkenal saat ini, Twitter. Saya pikir saya sudah cukup mahir memainkannya. Sepertinya.

"Hot chocolate ini seharusnya bisa terasa lebih manis jika ada kamu disini bersamaku dan canda tawa kita yang mengudara." - Kicauanku malam ini.

Malam ini saya terjaga dan bertahan di depan layar laptop saya. Saya terpaku pada satu account di Twitter.  Saya tidak mengenalnya, namun saya rasa saya pernah melihat sosok pria di avatar account tersebut. Saya melihatnya di acara launching suatu kafe di dekat tiong ting Solo. Tidak berbincang, tidak berkenalan, namun saya mengamati dia. Terus menerus.

Cinta? Ah, saya belum yakin ini cinta. Tapi banyak yang bilang, cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya. Cinta pada pandangan pertama? Oh tuhan.... Mungkinkah? Saya belum pernah memikirkan sejauh itu. Mungkin hanya sebatas tertarik. Atau mungkin.... Cinta pada pandangan pertama telah terjadi pada diri saya.

Teruntuk kamu, pria hitam putih.
Di malam itu, saya tidak mengenalmu.
Namun, mata saya menuntun saya untuk memperhatikanmu, sosok pria di atas panggung.
Dari depan panggung saya mengamatimu. Hingga sekarang, saya mengamatimu via kicauan di timelinemu.
Lucu. Kamu lucu. Dan situasi ini sangat lucu.
So, what can I do now? Let you know that I like you or......? Ah, sudahlah.
Nice to know you :)

Sincerely,
Your Secret Admirer
\o/

Saturday, March 9, 2013

Lelaki

Entah saya harus mulai darimana, saat ini saya ingin membahas tentang "Lelaki".
Jelas tidak asing dengan satu kata itu. Satu kata namun banyak artian.
Menurutku, Lelaki itu sesosok manusia dengan paras yang menawan, memiliki sopan santun baik, memiliki rasa menghargai kaum hawa yang tinggi, serta memiliki kesadaran akan melindungi kaum hawa pada umumnya.
Namun sayang, hanya beberapa lelaki yang sering saya temui yang memiliki artian seperti di atas.
Masih berada di bulan-bulan awal 2013, saya sudah berkenalan dengan beberapa lelaki baru. Bukan untuk modus, melainkan untuk menjadi teman. Karena biasanya saya berkenalan dengan orang selalu karena teman yang menyuruhnya. Maklum, saya terbilang orang yang sangat cuek.
Belakangan ini, saya berkenalan dengan 4 lelaki. Tentu saja tidak dalam waktu yang bersamaan.
4 lelaki dengan karakter yang berbeda, sempat menarik perhatian saya, namun hanya 1 yang benar-benar bertahan dengan saya walau jarak kita berjauhan. Saya tidak sedang menjalin hubungan dengannya. Saya dekat dengannya, namun tidak pacaran. 3 lelaki lainnya? 2 dari 3 lelaki yang berkenalan dengan saya memang "pyur" ingin menjalin hubungan sekedar berteman saja dan yang satu lagi, seperti lelaki jaman sekarang. Berkenalan intinya untuk dijadikan pacar, ketika dia merasa ada yang kurang dan nemu yang lebih di wanita lain, dia pergi aja gitu. Hahaha cinta memang rumit. Terlalu banyak aturan, cara, dan sebagainya.
Tidak heran, sekarang saya betah men-jomblo. Memang benar, walau hanya sebagian yang setuju, namun saya akui ketika mengakhiri hubungan dan memilih untuk sendiri, rasanya...... benar-benar bebaaaaaaaaaaaaas. Mau kemana, temanan sama siapa, kenalan sama siapa, who cares?
Memang pada minggu-minggu bahkan hari-hari awal terasa berat. Karena apa? Karena kita terbiasa untuk bergantung pada orang lain yang sebagai pasangan kita. Semua serba sendiri, ketika melihat ada yang sedang berpacaran ada aja gitu ya rasa iri. Tapi kalau masa-masa jomblonya di nikmatin dengan ikhlas, rasanya jauh lebih mengasikkan.

*oke, btw ini kenapa jadi curhat?*

Well, balik lagi ke "Lelaki".
Sebenarnya satu kata itu rumit untuk di artikan.
Lelaki.... Lelaki itu..... Seperti kamu. Jodoh saya di masa depan yang saya tidak tahu siapa kamu.

-Maryam Qonita-
\o/