Tuesday, April 16, 2013

Badai Duri

Malam sabtu di meja nomor 1 pada salah satu kafe ternama di bilangan SMAN 2 Surakarta, saya duduk sendiri di hadapan laptop dengan cahaya yang bersinar cukup terang untuk tempat yang cahayanya cukup redup. Saya masih sibuk dengan kegiatan menulis cerita untuk blog saya. Malam ini saya sendiri, tidak bersama someone special. Semenjak tragedi itu terjadi, semua berubah. Terutama pada diri saya.

Beberapa hari yang lalu, saya berada pada suasana yang sangat membahagiakan. Bertemu dengan orang yang baru sampai akhirnya menjalin hubungan yang serius bersama orang tersebut. Saya Milla, sedang merasa sangat jatuh, jatuh cinta pada Coki, orang yang beberapa hari ini menemani saya. Saya begitu menyanyangi Coki, begitu juga sebaliknya, mungkin. Saya selalu bersama dengannya setiap hari. Coki memang rajin menjemput saya untuk berangkat maupun pulang ngampus, ataupun hanya sekedar untuk makan bersama. Coki termasuk pribadi yang baik, sabar dan sangat care kepada orang-orang yang ia sayangi.

Pada tanggal 15 Maret, kita bertemu dan berkenalan di salah satu kafe di kota Solo. Pada saat itu saya sendiri dan dia bersama teman-temannya. Terpisah jarak oleh beberapa meja, Coki mengamati saya dengan seksama yang sedang terlihat sibuk dengan laptop di hadapan saya. Entah apa yang sedang ia lakukan sekarang, pikirnya. Coki terus mengamati saya sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk menghampiri saya. Sekedar ingin tahu nama saja karena Coki udah merasa penasaran yang udah kepalang tanggung.

"Hai....." - Sapanya.

"Ya?", jawabku dengan sedikit cuek.

Maklum saya memang di kenal sebagai wanita yang terlalu cuek dengan keadaan dan orang-orang sekitar. Seketika raut wajah Coki berubah ketika mendengar jawaban saya yang begitu acuh.

"Eng... engga mba. Boleh minta tolong? Saya sedang ada urusan, dosen saya menghubungi saya untuk segera membuka email saya karena dia mengirimkan tugas yang harus di kasih tau malam ini juga ke teman-teman saya karena besok pagi sudah harus di kumpulkan. Saya tidak bisa pulang sekarang, di luar hujan lebat.", Ujarnya dengan gugup. Dia masih mencari celah untuk mengajak berkenalan.

Saya menoleh ke arah luar. Oh iya juga ya, gara-gara makai headset sejak tadi sampai gak sadar ternyata di luar udah hujan selebat itu, batinku.

"Oh gitu, oke saya akan pinjamkan laptop saya tapi tunggu berberapa menit ya. Saya ingin menyelesaikan tulisan saya dulu."

Dia mengangguk dan sambil di sertakan senyuman manisnya.

Beberapa menit berlalu saya masih sibuk mengetik. Wajah Coki sudah terlihat sangat bosan menunggu saya selesai. Akhirnya saya mengarahkan cursor pada laptop saya ke tulisan save. Saya me-draft sementara ketikan cerita yang saya buat malam ini.

"Nih, saya udah selesai. Jadi makai gak, Mas?", Ujar saya dengan wajah sedikit jutek.

"Ee.. eh i.. iya mba.", jawab Coki dengan terbata-bata dikarenakan masih terkejut dengan hentakan suara saya yang membuat dia sadar dari kantuknya.

Dengan cepat Coki mengambil alih laptopku, dia membuka new tab pada tampilan chrome saya dan mengetik www.yahoo.com untuk segera membuka emailnya. Sampailah dia pada halaman utama di emailnya. Lalu dia berkata....

"Loh kok ga ada email baru yang masuk, ya? Gimana sih ini dosen, ngeribetin aja.", Grutunya.

Saya masih diam. Sibuk dengan headset yang masih menggantung di kedua telinga saya. Akhirnya Coki meng-close halaman tersebut dan mencolek pundak saya. Saya melepaskan headset saya.

"Udah?", Tanyaku.

"Udah, Mba. Cuma sepertinya saya dikerjai oleh dosen saya. Tidak ada email darinya yang masuk. Maaf ya Mba merepotkan.", dia menjawab dengan tersenyum.

"Iya iya gak apa-apa. Santai aja."

"Oh yaudah, Mba. Saya kembali ke meja saya, ya. Teman-teman saya sudah menunggu daritadi. Sekali lagi saya minta maaf ya, Mba."

"Iya Mas, tidak apa-apa."

Kemudian Coki berdiri, beranjak dari tempat duduk yang sejak tadi ia duduki. Baru saja melangkahkan kaki satu langkah, dia membalikkan badannya ke arah saya.

"Oia, Mba. Eng.... Kalau boleh tau, nama Mba siapa ya? Kali aja nanti di lain tempat kita bertemu lagi. Siapa tau saat Mba lagi membutuhkan bantuan dan ingin minta bantuan saya kan biar ga canggung gitu, Mba. Hehehehe.", Basa-basinya.

"Oh oke, saya Milla.", saya memberikan tangan saya seperti orang yang berkenalan pada umumnya.

"Oke Milla, saya Coki. Panggilnya Coki saja, jangan mas ya hehehe", Dia memberikan tanggannya lalu menggengam tangan saya dan mengayunkannya sedikit. "Oia ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa jangan segan untuk menghubungi saya, ya?", Dia memberikan kartu namanya yang di sertai senyuman manis nan hangatnya.

"Oh oke, Coki.", Jawabku datar.

Beberapa minggu berlalu, kita tak saling bertemu lagi. Sampai suatu hari saya sedang asik menikmati suasana malam yang dingin di kamar, saya menemukan handphone saya berbunyi.

1 request.

Sebuah pin baru me-invite pin saya. Saya tidak tahu itu siapa. Sampai akhirnya saya me-accept-nya. Tidak berapa lama setelah itu muncullah nama baru di Recent Updates handphone saya. Coki Putra Irawan. Dheg! Nama ini sepertinya tidak asing untuk saya. Segeralah saya mengambil tas hitam saya, sekedar mengambil dompet dan mengambil secarik kertas kartu nama. Saya lihat kartu nama tersebut, dan ternyata memang Coki yang sama.

*drrrrt drrrrt*
Handphone saya bergetar saat ada 1 pesan baru yang masuk.

"Hei, Milla. Masih ingat saya?", Coki mengirimkan pesan singkat untuk saya.

"Iya, saya masih ingat. Ada apa?", Saya menjawabnya. Seperti biasa, apa adanya.

"Sebelumnya saya minta maaf bila saya mengambil pin kamu sembarangan dari handphone-nya Gum. Semenjak malam itu, saya tidak pernah bertemu kamu lagi. Kamu juga tidak pernah menghubungi saya. Jadi saya merasa seperti penasaran saja sama kamu.", Jelasnya panjang lebar.

"Oh dapet dari Gum? Iya iya gak apa-apa."

"Iya, Mil. :)"

Gum adalah teman seperantauan saya yang saya kenal dari satu komunitas yang mengasuh banyak mahasiswa perantau. Terutama, untuk perantau dari wilayah Jabodetabek.

Hanya segitu saja kita bercakap-cakap malam itu. Dan tidak pernah bercakap-cakap lagi.

Beberapa hari berlalu, saya masih selalu menikmati hari-hari saya. Menjalaninya dengan seorang diri, namun saya merasa cukup bahagia. Di pagi ini saya mendapatkan pesan singkat dari Coki lagi.

"Hello :)"

Entah apa yang ada di pikiran saya, saya hanya menjawab dengan "?". Dan dia tidak membalasnya lagi. Seperti hari-hari kemarin, kita hanya berbincang sedikit dan tidak berbincang lagi berhari-hari. Sampai akhirnya hari Kamis dini hari, waktu menunjukkan tepat jam 02.00 wib saya masih terjaga. Tak ada rasa kantuk. Sampai akhirnya saya iseng untuk mengganti display picture saya. Ternyata Coki-pun masih terjaga. Dan mengirimkan pesan. Lagi.

"Hai, Mil. Belum tidur?'

"Belum nih, Ki. Kamu juga?"

Berawal dari situ, kita semakin dekat. Dan hubungan baru kitapun di mulai.

Hanya dalam jangka waktu satu-dua minggu, saya merasakan banyak kecocokan antara saya dan Coki. Mengobrol atau hanya sekedar untuk berdekatan membuat saya merasakan kenyamanan tersendiri.

First date pun terjadi. Saya bertemu dengannya lagi. Hanya mengobrol, makan lalu pulang. Dan akhirnya, second date pun tak terhindarkan. Malam itu, di kafe Cassa di bilangan Manahan, dia memakai kemeja. Terlihat manis dan lebih tampan dari sebelumnya. Saya masih terpaku dengannya, maka dari itu saya selalu menyibukkan diri dengan handphone di hadapan saya agar tidak terus-menerus memperhatikannya dengan mata yang berbinar-binar. Bisa gede kepala dia kalau tau gue memperhatikan dia terus, batinku.

Hari-hari berlalu, kita semakin dekat. Semakin intensif waktu untuk bertemu. Dari kafe satu ke kafe satunya, atau bahkan ke tempat makan yang hanya di pinggiran jalan. Suasana terasa lebih menyenangkan, hawa dingin Solo terasa tak sehangat sebelumnya. Bahkan saya sama sekali seperti tidak merasakan hawa dingin Solo lagi.

Jumat malam tanggal 29 maret 2013, kita menyepakati perjanjian untuk pergi bersama. Malam itu saya dan Coki melaju kesana-kemari, mencari tempat makan yang juga comfortable untuk mengobrol. Tempat yang cocok pun telah di temukan, kita makan disertai canda-tawa khas masing-masing. Malam semakin larut, kita melaju lagi menuju rumah kos-kosan saya. Dalam perjalanan, tepat di bawah pepohonan yang rindang yang di selimuti kegelapan yang melekat, Coki menyatakan perasaannya. Saya hanya terdiam. Berbicara hanya untuk bertanya. Tak menjawab. Saya sudah sampai pada kamar A7 kos-kosan saya. Dan Coki masih berada dalam perasaan tidak tenang karena saya belum menjawab pertanyaannya.

Keesokkan harinya, Coki tetap mengajak saya jalan. Malam minggu, dia sudah berada di depan gerbang pintu kos-kosan saya yang diiringi oleh rintik hujan yang sejak tadi tak kunjung usai. Saya menyuruhnya masuk dan duduk di garasi kos-kosan untuk sekedar menunggu hujan meredakan dirinya sedikit.

Di sela-sela suara rintik hujan, saya memberanikan diri untuk menjawab pertanyaannya kemarin. Tidak menatap wajahnya. Saya menunduk, memegang handphone di tangan dengan erat. Sangat erat. Saya menjawab dengan di selipi candaan. Pada awalnya Coki sudah terlihat hopeless atas jawaban saya, namun ketika saya menegaskan untuk "mau" menjadi sebagian dari beberapa bagian di hidupnya ke depan, Coki tidak mampu menyembunyikan senyuman manis dan bahagianya di hadapan saya. Sesingkat itu lah kita mengikat janji baru kita diantara rintik hujan yang ada.

Hari-hari berlalu, kita sangat bahagia. Semakin menyayangi satu sama lain. Ya walaupun saya adalah salah satu pihak yang amat jarang mengucapkan I Love You atau sekedar kata pemanis di hubungan kita. Saya terlalu cuek, beda dengan Coki.

Hari ke-12 atas hubungan kita, terdapat masalah besar yang menghantam saya yang membuat saya amat terpuruk dan terus pretending bahwa tidak terjadi apa-apa dengan sering memberikan senyuman ke banyak orang di sekitar. Hubungan saya dan Coki termasuk hubungan yang adem-ayem. Tapi itu dulu, jauh sebelum orang di masa lalunya Coki datang.

Hari ke-13, kita sepakat untuk menyudahi hubungan manis nan singkat kita ini. Di hadapan Coki dan Gum saat itu, saya seperti masih terlihat sebagai orang yang selalu bahagia seperti sebelumnya. Namun, jauh di belakang itu semua, saya hancur. Ekspektasi atas hubungan ini yang sudah saya jaga dan saya kembangkan lenyap begitu saja. Saya merupakan salah satu orang yang tidak percaya dengan pernyataan "Angka 13 adalah angka sial". Namun kali ini, saya mengakuinya.

Ini kali keduanya saya menjalani hubungan sesingkat paket internet untuk smartphone. Sama-sama terpaku pada "orang di masa lalu". Entah mengapa bisa terjadi dua kali, ini terjadi semenjak saya pindah ke Solo.

Kejadian sore itu adalah puncak dari meledaknya segala perasaan yang menggangu batin saya. Perang batin? Iya. Sakit? Tentu saja. Ingin membalas? Tidak mau. Sabar? Selalu. Tetap senyum? Pasti.

Setelah kejadian itu, saya lebih sering berdiam diri. Namun, di depan banyak orang saya tetaplah Milla yang selalu ceria. Tak sepadan dengan keguncangan di dalam diri saya saat itu.

Sabtu siang, saya melaju ke daerah Cemani Baru. Bersandang ke rumah Bunda Salwa untuk pertama kalinya. Menenangkan pikiran di rumah itu. Suasana kekeluargaan yang amat saya rindukan sejak beberapa bulan yang lalu. Saya merasa lebih baik sejak bersama Bunda Salwa dan keluarganya beberapa hari ini.

Saya kembali ke kos-kosan saya yang nyaman ini. Saya sudah kuat. Saya tidak lemah. Saya siap menghadapi situasi sulit. Lagi. Saya....... Tetap dan akan selalu tersenyum.

Badai Duri...... Ya, saya menyebutnya seperti itu. Karena, saya seperti berada di situasi dimana badai duri telah terjadi. Jika saya bergerak saya akan tertancap salah satu duri yang berjatuhan. Namun, bila saya tidak bergerak, saya akan semakin terjebak atas duri-duri yang menyakitkan di sekeliling saya. Complicated.

Ah... Tidak terasa waktu telah menunjukkan jam 24.00. Saya masih berada di kafe ini. Masih nyaman menulis cerita di blog saya ini. Saya harus pulang. Layaknya cerita di blog, saya harus membuat cerita baru di kehidupan saya mulai hari ini dan seterusnya.

-Maryam Qonita-
\o/

No comments:

Post a Comment