Friday, August 30, 2013

Badai Katrina

Senja sore ini terasa sangat lebih indah. Dalam perjalananku kembali ke rumah kos-kosan, aku selalu memandangi langit. Senja yang begitu indah seakan menghantarku kembali ke surga kecil di dunia. Ya, kamar.

Namaku Adelline. Aku mahasiswi semester akhir yang sedang sibuk-sibuknya dengan berbagai macam kegiatan di kampus. Sore ini aku melajukan sepeda motor kesayanganku dari kampus menuju rumah kos-kosanku. Lelah. Ya, sangat lelah. Aku merasakan betapa lelahnya badan serta pikiranku hari ini. Dalam perjalan, aku menemukan senja yang begitu indah. Mataku terpaku memandang langit. Ku pelankan laju kendaraanku sejenak hanya untuk sekadar memandangi keajaiban yang Tuhan berikan. Indah sekali, gumamku.

Sesampainya aku di kamar, tanpa basa-basi aku bergegas merebahkan tubuh ini di atas kasur yang sangat empuk. Kedua bola mataku menerawang ke atas langit-langit dinding kamarku. Aku terdiam. Dan kemudian menangis. Semua permasalahan yang sedang terjadi padaku serasa menusukku perlahan. Aku rindu rumah kedua orang tuaku. Aku rindu kedua orang tuaku dan kedua kakak-kakakku. Aku rindu berada dalam satu atap dengan keluargaku. Bercengkrama, bercerita dan bermanja ria. Aku rindu.

Sejenak aku mengingat kata-kata yang dapat membangkitkanku dari salah satu sahabat terbaikku.

“Masalah dalam hidup bagaikan badai Katrina. Ketika mata badainya sudah keluar, pasti akan ada kehidupan yang lebih baik nantinya.”

Aku selalu percaya dengan kalimat-kalimat itu. Entah mengapa. Ku usap air mataku dan mulai bergegas menyelesaikan permasalahan itu satu persatu.


No comments:

Post a Comment